Saat Pemandu Berhidroponik Bersama Kelas Trubus

  • Kelas Trubus
  • 03 Feb 2022
Saat Pemandu Berhidroponik Bersama Kelas Trubus

“Bonjour.Comment allezvous?” Itu kebiasaan Hanibal Rahardjo menyapa rombongan pelancong berbahasa Prancis yang berkunjung ke Jakarta. Anggota Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) itu tak pernah lama berada di rumah apalagi saat musim libur. Kemampuan berbahasa Prancis dan Inggris membuat ayah satu putra itu sibuk mendampingi peserta tur. Pagi itu berbeda. Bukannya pergi menyambut tamu, ia justru menuju taman di samping rumahnya di bilangan Kota Depok, Jawa Barat, untuk menyalakan pompa air setiap pukul 06.00. Pompa itu mengalirkan larutan nutrisi dari bak penampungan menuju pipa-pipa berisi kangkung dan bayam merah di atasnya. Pramuwisata itu tengah menikmati profesi baru sebagai petani hidroponik.

Hanibal mengantongi omzet Rp290.000 dari penjualan kangkung dan bayam merah hidroponik yang panen perdana pada pertengahan Juni 2020. Ia menjualnya pada tetangga Rp10.000 per 200 gram. Kunci memulainya adalah nutrisi tepat, sabar, dan telaten. Senjata utama Hanibal adalah termometer, pH meter, total dissolved solid (TDS) meter, dan electrical conductivity (EC) meter. Termometer untuk memantau suhu larutan nutrisi agar berada di bawah 31ºC. PH meter untuk mengukur tingkat keasaman melalui aktivitas ion hidrogen terlarut. TDS meter untuk mengetahui jumlah zat terlarut dan EC meter untuk mengukur daya hantar listrik. Bayam, misalnya, perlu kondisi tumbuh dengan kisaran pH 5,5—6,6, jumlah zat terlarut 1.260—1.610 ppm, dan daya hantar 1,8—2,3 mS/cm. Hanibal menyalakan listrik 3 kali sehari total 6 jam, yakni pada pukul 6.30—8.30, 13.00—15.00, dan 18.00—20.00. Pada siang hari jika suhu air nutrisi di tandon lebih dari 31ºC, ia menambahkan sebungkus es batu. Hanibal menyiapkan tambahan instalasi hasil rakitan sendiri sebanyak 90 lubang. Anggota HPI di Jakarta Timur, Eka Situmorang, tak kalah antusias tatkala panen perdana sayuran hidroponik. Total ada 6,5 kg kangkung dan 12 kg bayam.

Ia sengaja mengukusnya saja sebab ingin mencoba rasa asli kangkung hasil tanam sendiri. “Rasanya segar dan renyah. Ternyata tangan saya tidak tangan panas dan semua tanaman hidup dan bertahan hingga panen,” kata Eka. Sebelumnya perempuan berusia 39 tahun itu menanam 4 pohon mangga tapi tidak pernah berbuah. Harap mafhum ia begitu bersemangat mengetahui sayurannya tumbuh subur. Berbeda dengan Hanibal, Eka menyalakan pompa untuk mengalirkan nutrisi 24 jam nonstop. Tak heran kangkung dan bayam merah yang berada di teras lantai dua itu tumbuh subur. Peraih gelar Magister Manajemen Komunikasi alumnus Universitas Indonesia itu 

Eka dan Hanibal bersyukur memperoleh kesempatan belajar hidroponik secara daring yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Kelas Trubus itu. Setelah mengikuti Kelas Trubus, para peserta memperoleh satu unit hidroponik, termasuk benih. Tim dari Kelas Trubus memandu budidaya sayuran secara hidroponik. Apa pun masalah yang mereka hadapi terkait budidaya sayuran, tim membantu mengatasinya. Pantas jika grup whatsapp tak pernah senyap. Mereka yang biasa memandu, kini harus dipandu.

Sejak pandemi virus korona, praktis pelaku usaha pariwisata tak memperoleh penghasilan. “Semua tur saya dan rekan-rekan HPI dibatalkan sejak bulan Januari, pertama kali covid-19 ditemukan di Tiongkok. Kami sangat bingung apa yang bisa kami kerjakan,” kata Hanibal. Demikian pula dengan Eka, rencana memandu turis pada akhir Maret turut kandas.

Menurut mentor hidroponik Kelas Trubus, Rahmansyah Dermawan, S.P., M.Si., kunci keberhasilan hidroponik bagi pemula adalah perlakuan benih dan penyemaian. “Benih merupakan objek vital utama. Media tanam dan nutrisi tidak akan berguna jika benih tidak tumbuh baik,” kata mahasiswa program doktor Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor. Salah satu perlakuan benih adalah merendam dalam air hangat selama 3—6 jam. Lakukan seleksi dengan membuang benih yang terapung. Penyemaian perlu sinar matahari. Pemula biasanya mengalami kegagalan saat penyemaian ditandai dengan adanya etiolasi— batang kecil, daun berwarna pucat, dan sedikit akar.

Etiolasi atau kecambah kurus karena terlambat terkena sinar matahari. Berdasarkan beberapa riset, tanaman memerlukan sinar matahari setidaknya 6—7 jam per hari. Konsultan hidroponik Kelas Trubus, Rizky Faisal, S.P., mengatakan, sistem hidroponik deep flow technique (DFT) cocok bagi pemula seperti Hanibal dan Eka. Musababnya bila pompa mati atau air di tandon habis, tanaman masih memperoleh suplai nutrisi dari air yang menggenang di pipa. “Mereka menikmati proses belajar mulai dari benih hingga panen. Pelatihan hidroponik ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi, percaya diri, dan kemampuan bertanam,” kata Rahman.***